Disebuah malam aku bersimpuh tak berdaya bagaikan kulit tanpa tulang
Lemas tanpa tenaga..bukan karena kelaparan bukan pula karena kehausan
Mataku hanya bisa terpaku memandang hamparan yang tanpa tanaman
Iya..aku melamun..melamunkan masa dimana belaian kasih sayang dan perjuangan sosokayah yang begitu penuh kasih sayang
Masih terbayang dalam benak dan nuraniku,bagaimana aku merengek bahkan mengamuk di dalam kamar tatkala dijanjikan jalan-jalan ke pelabuhan ikan namun tak jadi berangkat karena kedatangan orang
Bahkan ta tanggung-tanggung, aku mengamuk membanting tasbih di pinti kamarku
Ah sungguh memalukan perbuatanku, apa kata hati sang tamu tadi.
Ah aku tak tahu dan tak pernah peduli
Mungkin dalam hatinya beliau berkata "eh ada apa itu kok ada suara gaduh di kamar"
Perbuatan memalukan itu ternyata tidak menghilangkan rasa sayang ayahku
Sungguh mulia hatimu ayah. Tak pernah mengeluh, taknpernah marah, engkau hanya mwnasehatiku dengan gaya bicara yang berbeda denganku.
Apapun yang aku minta selalu kau usahakan ada. Tanpa engkau keluhkan beban itu, meskipun engkau harus menguras pikiran dan tenagamu.
Ayah..aku sangat ingat bagaimana engkau bekerja di sawah..bagaimana engkau meperbaiki mesin diesel yang rusak..engkau begitu serius..ta jarang kau dapatkan luka dari itu semua..darah yang menetes tak membuatmu menyerah
Ayah..anakmu sekarang sudah besar bahkan cucumu ini sudah bisa berucap mbah..
Ayah..engkau pulang tanpa berpamitan kepadaku..padahal anakmu ini belum bisa membahagiakanmu..belum bisa merawatmu..anakmu ini egois, hingga menginginkan kesuksesan untuk diperlihatkan kepadamu..
Tapi ayah..engkau ternyata pulang dahulu..sebelum aku bisa menyuapimu..menuntunmu..merawatmu..
Bahkan hingga engkau pulang..anakmu ini belum bisa memandikan..bahkan mengantarmu..
Ayah..maafkan anakmu..
Ayah..
Ayah..
Ayah..
Kutitipkan do'a dan rindu untukmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar